Terlahirnya seorang bayi di dunia ini merupakan dambaan semua pasangan suami istri, karena hal ini juga merupakan tujuan dari sebuah perkawinan. Setelah adanya bayi tentu tidak membuat pekerjaan orangtua menjadi lebih mudah bahkan cenderung sedikit merepotkan karena ada aktivitas lain yang harus di lakukan yaitu mengasuh dan menjaga bayi tersebut agar selalu sehat dan bahagia. Bayi juga sangat rentan akan kena penyakit terutama saat bayi berumur di bawah 2 tahun. Ada beberapa penyakit yang menjadi langganan pada bayi, Karena seorang bayi daya tubuh yang dia miliki belum kuat atau sempurna.
Ada beberapa jenis penyakit yang biasa dialami oleh seorang bayi,
pencegahan dan penyakit langganan pada bayi yaitu;
1. Batuk Pilek
Penyebabnya bisa karena infeksi atau alergi. Frekuensi batuk pilek umumnya akan menurun seiring bertambahnya usia dan semakin bagus sistem pertahanan tubuhnya, berkaitan dengan kualitas gizi yang baik. Batuk-pilek sendiri merupakan gejala di saluran napas (respiratorik), terutama saluran napas bagian atas.
* Batuk pilek karena infeksi
Penyebab terbesar karena virus akan tetapi dapat juga karena kuman, atau mikroba. Biasanya ditandai dengan demam, rewel, dan tubuh linu-linu (sayangnya bayi tidak dapat mengungkapkan hal ini). Dalam rentang waktu 2 - 3 hari akan sembuh jika bayi diberi asupan gizi dan istirahat yang cukup. Dengan meningkatkan daya tahan tubuh si kecil, batuk pilek dapat sembuh dengan sendirinya.
* Batuk pilek karena alergi
Jika si kecil mengalami batuk pilek yang berkepanjangan - lebih dari 3 hari belum sembuh juga - terdapat kemungkinan batuk pileknya karena alergi. Penyebabnya, reaksi yang berlebihan pada saluran napas (hidung/tenggorokan) terhadap suatu pencetus. Faktor pencetus alergi bisa dari debu, asap, bulu binatang, makanan/minuman. Ciri khas batuk-pilek alergi ditandai dengan batuk timbul berulang dalam rentang waktu yang pendek. Waktu penyembuhannya bisa lebih dari dua minggu. Untuk mengobati, sedapat mungkin hindarkan si kecil dari pencetusnya.
* Bedakan warna ingus dan dahak
Jika warnanya bening, menunjukkan penyakit mulai memapar. Jika berubah keruh kekuningan itu artinya telah terjadi perlawanan antara antibodi dan penyakit. Batuk pilek akan menunjukkan kesembuhannya jika ingus dan dahaknya mulai berubah hijau. Itu artinya bakteri, mikroba, atau virusnya telah mati.
2. Diare
Sesungguhnya batas normal si kecil kecil buang air besar sangatlah bervariasi. Ada anak yang BAB beberapa kali dalam sehari bahkan bayi kerap BAB satu jam sekali. Yang terpenting dan perlu diperhatikan adalah konsistensi fesesnya.
Diare ada yang disebabkan oleh virus (rotavirus), bakteri ecoli, atau karena alergi susu sapi. Diare akibat infeksi merupakan bagian dari reaksi alamiah tubuh terhadap masuknya kuman, lalu membantu mengeluarkannya dari pencernaan (usus). Diare karena infeksi ini sembuh lebih lama tetapi jika tidak sembuh juga bisa jadi karena kemungkinan adanya kelainan atau ketidakmampuannya bertoleransi terhadap produk susu tertentu. Jika ia mengalami diare sesudah makan harus diperiksakan ke dokter untuk mengetahui apakah absorbsi (penyerapan) makanannya mengalami gangguan.
Atasi Diare
Jika diare tidak segera mendapat penanganan tepat, akibatnya akan kehilangan cairan tubuh sehingga dapat mengalami dehidrasi. Cobalah untuk memberi minum sebanyak mungkin dan berikan cairan oralit (campuran garam dan gula) dari apotik. Jangan pernah mencoba untuk mencampur garam dan gula dengan air sendiri di rumah karena perbandingannya harus tepat dan ketidakseimbangan pencampuran bisa membahayakan.
Lamanya pengobatan diare tergantung dari penyebabnya. Jika penyebabnya tidak terlalu serius, tunggu saja sampai berangsur membaik serta menghindari makanan yang mungkin dapat memperburuk keadaan.
3. Sembelit
Bayi dikatakan mengalami sembelit atau konstipasi (kesulitan buang air besar) bila fesesnya keras, sangat sulit dikeluarkan dan menimbulkan rasa sakit. Konstipasi tidak berhubungan dengan berapa kali bayi BAB dalam sehari. Jika bayi BAB setiap dua hari sekali tapi fesesnya masih lunak, ini bukanlah konstipasi.
Normal atau tidaknya BAB tergantung pada usia karena bayi di bawah empat bulan lebih sering BAB, namun dengan semakin bertambahnya usia maka polanya akan semakin mirip orang dewasa. Salah satu penyebab sembelit pada bayi umumnya karena perubahan pola konsumsi dimana bayi mulai mengonsumsi makanan pada pertamanya.
Kekurangan pemberian cairan dan serat alami dapat menyebabkan kesulitan BAB. Perubahan konsumsi ASI ke susu formula juga dapat menyebabkan sembelit. Jika bayi Anda sembeli, cari tahu penyebab utamanya.
Beri Asupan Berserat
Jika telah terjadi pengerasan feses pada bayi, segera upayakan memberinya asupan berserat seperti sari buah atau jus encer serta tambahan sayur mayur dalam makanannya, misalnya nasi tim yang dicampur dengan bayam. Biasakan supaya anak menyukai sayur dan buah yang kaya serat alami sejak bayi agar kelak masalah konstipasi ini tidak menjadi kronik.
4. Muntah
Hal ini umum terjadi pada anak dan penyebabnya bermacam-macam. Yang terpenting untuk diketahui adalah seberapa berat muntah tersebut berdampak pada anak. Muntah pada bayi dapat disebabkan karena cara menyuapi yang salah. Misalkan saja perut bayi sudah penuh tetapi masih terus disuapi makanan.
Muntah dengan nyeri kepala pada anak yang menderita panas atau keadaan umumnya tidak sehat, kemungkinan juga disebabkan oleh infeksi seperti flu atau sakit tenggorokan.
Muntah dengan nyeri perut karena gastroenteritis yang menyebabkan nyeri kejang yang timbul hilang. Muntah yang berulang dapat menimbulkan nyeri karena menyebabkan tegangan pada otot perut bagian atas. Kecemasan atau penjalaran penyakit tertentu juga kadang-kadang memicu muntah pada anak-anak yang sensitif.
Gastroenteritis sendiri merupakan penyakit lambung, dan infeksi yang memengaruhi lambung serta usus bagian atas yang mengakibatkan muntah. Atau infeksi pada usus bagian bawah yang dapat menimbulkan diare dan nyeri kejang atau kombinasi keduanya. Muntah yang parah terjadi secara tiba-tiba dan dalam satu jam anak muntah sampai beberapa kali, biasanya suhu tubuh anak juga panas.
Di saat bersamaan biasanya anggota keluarga yang lain terutama anak-anak juga bisa terkena. Penyebabnya karena infeksi virus, kadang juga karena bakteri dari makanan yang beracun. Umumnya muntah pada gastroenteritis akan membaik dalam 24 - 48 jam meski bisa saja kejang perut terjadi dalam beberapa hari.
Penanganannya dengan menjaga anak agar tetap merasa nyaman dan minum sebanyak-banyaknya guna menghindari risiko dehidrasi karena dehidrasi itu sendiri adalah bahaya terbesar yang diakibatkan karena muntah.
5. Infeksi Telinga
Di samping pilek, infeksi telinga (otitis media akut) adalah penyakit masa kanak-kanak yang paling sering didiagnosis di Amerika Serikat. 3 dari 4 anak-anak setidaknya mengalami satu kali infeksi telinga pada saat mereka mencapai usia 3 tahun.
Telinga terdiri dari tiga bagian yakni telinga luar, telinga tengah, dan telinga bagian dalam.
Agar berfungsi dengan baik, telinga tengah harus pada tekanan yang sama dengan lingkungan di sekitarnya. Di sinilah tabung estachius berperan, sebuah bagian kecil yang menghubungkan telinga tengah ke bagian belakang tenggorokan di belakang hidung.
Dengan membiarkan udara mencapai telinga tengah, tabung estachius menyetarakan tekanan udara di telinga tengah dengan tekanan udara luar. Ketika menguap atau menelan, tuba estachius menyesuaikan tekanan udara di telinga tengah dan juga berperan sebagai saluran lendir dari telinga tengah ke dalam tenggorokan.
Kadang-kadang, tabung estachius ini mengalami gangguan karena misalnya ketika seseorang mengalami pilek atau alergi, tabung estachius juga ikut terpengaruh oleh lendir yang tersumbat. Bakteri atau virus yang masuk ke telinga tengah melalui tabung estachius pun juga dapat terjebak di sini. Kuman yang terperangkap dalam cairan ini kemudian berkembang biak dan menyebabkan infeksi telinga.
Infeksi yang tidak diobati dapat merembet dari telinga tengah ke bagian dekat kepala termasuk otak. Meskipun kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh otitis media biasanya bersifat sementara, namun otitis media yang dibiarkan tanpa diobati dapat menyebabkan gangguan pendengaran secara permanen.
Beri Antibiotik
OMA (Otitis Media Akut) umumnya adalah penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya. Sekitar 80 persen OMA sembuh dalam 3 hari tanpa antibiotik. Penggunaan antibiotik tidak mengurangi komplikasi yang dapat terjadi, termasuk berkurangnya pendengaran.
BLOG DENGAN ANEKA CONTENT GAYA HIDUP, KESEHATAN, TIPS DAN TRIK, BISNIS, CERITA DAN HUMOR
Tampilkan postingan dengan label apakah tumbuh gigi bikin bayi demam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apakah tumbuh gigi bikin bayi demam. Tampilkan semua postingan
Minggu, 08 Agustus 2010
Kamis, 10 Juni 2010
Penyebab Demam Pada Bayi
Setiap orang yang sudah mempunyai pasangan hidup atau yang biasa disebut dengan hidup berkeluarga, pasti mendambakan lahirnya seorang bayi. Pastilah para pasangan hidup suami istri itu di bikin bahagia oleh kehadiran bayi itu.
Bayi pasti akan mengalami pertumbuhan sebagaimana mestinya. Salah satu contoh nyata adalah proses pertumbuhan pada gigi. Bagaimanakah tanda proses tumbuhnya gigi pada bayi?? apakah semua orang tua memperjatikan proses tersebut? Bagaimanakah prosesnya...???
Proses tumbuh gigi bayi seringkali ditandai dengan bayi rewel hingga mengalami demam tinggi. Benarkah proses tumbuh gigi membuat anak sakit hingga mengalami demam tinggi?
Orangtua sering berpikir bahwa bayi yang tumbuh gigi akan mulai mengeluarkan air liur dan sering memasukkan jarinya ke dalam mulut.
Gigi pertama yang tumbuh bisa terjadi kapan saja antara usia 3-15 bulan, tapi sebagian besar bayi rata-rata tumbuh gigi pertama saat berusia 4-7 bulan.
Proses tumbuh gigi ini relatif tidak menimbulkan rasa sakit pada bayi atau anak, tapi jika disertai dengan timbulnya gejala biasanya terjadi 3-4 hari sebelum gigi pertama muncul.
Sebagian besar para ahli akan mengatakan tumbuh gigi tidak menyebabkan demam ataupun demam tinggi. Sekalipun anaknya demam, maka temperatur yang terjadi dalam tingkat rendah dan biasanya terjadi pada saat gigi tersebut muncul.
Tapi jika anak mengalami demam saat tumbuh gigi, kemungkinan hal tersebut hanya kebetulan saja atau ada kondisi lain yang menyebabkan anak demam.
Seperti dikutip dari Pediatrics.about.com, Kamis (10/6/2010) selain mengeluarkan air liur, proses tumbuh gigi ini seringkali diikuti dengan gejala lainnya yaitu:
1. Penurunan nafsu makan untuk makanan padat
2. Bayi suka menggigit dan menggosok-gosok gusinya
3. Bayi menjadi lebih rewel
4. Menjadi lebih sering mengisap jempol atau jari
5. Terbangun di malam hari.
Jika gejala-gejala tersebut muncul setiap kali anak akan tumbuh gigi, maka orangtua bisa menyalahkan proses tumbuh gigi anak sebagai penyebabnya.
Tapi jika gejala tersebut timbul dan tidak disertai dengan gigi yang tumbuh, maka ada kemungkinan kondisi lain yang terjadi pada anak seperti infeksi telinga.
Beberapa bayi terkadang merasa tidak nyaman dengan proses tumbuh gigi ini, karena itu orangtua bisa melakukan sesuatu untuk membantu menenangkan anak dan mengurangi rsatidak nyamannya, yaitu:
1. Membiarkan bayi mengunyah sesuatu yang dingin. Salah satu cara yang paling populer untuk mengatasi rasa tidak nyaman di mulut adalah membiarkannya mengunyah hal-hal dingin. Sebuah kain yang dibasahi air dingin bisa mengurangi bengkak di gusi atau memberikan es kecil-kecil yang terbuat dari jus buah.
2. Membantu membuat bayi menjadi tenang dan mengurangi stresnya. Terkadang stres akibat tumbuh gigi bisa lebih buruk dibandingkan akibat sakit fisik. Cobalah untuk menenangkan bayi dengan musik lembut, mengajaknya bicara atau memberinya pijatan lembut.
3. Jika kondisi ini tidak membantu meringankan kondisi bayi, maka tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui ada kondisi lain yang mengikuti atau tidak.
Bayi pasti akan mengalami pertumbuhan sebagaimana mestinya. Salah satu contoh nyata adalah proses pertumbuhan pada gigi. Bagaimanakah tanda proses tumbuhnya gigi pada bayi?? apakah semua orang tua memperjatikan proses tersebut? Bagaimanakah prosesnya...???
Proses tumbuh gigi bayi seringkali ditandai dengan bayi rewel hingga mengalami demam tinggi. Benarkah proses tumbuh gigi membuat anak sakit hingga mengalami demam tinggi?
Orangtua sering berpikir bahwa bayi yang tumbuh gigi akan mulai mengeluarkan air liur dan sering memasukkan jarinya ke dalam mulut.
Gigi pertama yang tumbuh bisa terjadi kapan saja antara usia 3-15 bulan, tapi sebagian besar bayi rata-rata tumbuh gigi pertama saat berusia 4-7 bulan.
Proses tumbuh gigi ini relatif tidak menimbulkan rasa sakit pada bayi atau anak, tapi jika disertai dengan timbulnya gejala biasanya terjadi 3-4 hari sebelum gigi pertama muncul.
Sebagian besar para ahli akan mengatakan tumbuh gigi tidak menyebabkan demam ataupun demam tinggi. Sekalipun anaknya demam, maka temperatur yang terjadi dalam tingkat rendah dan biasanya terjadi pada saat gigi tersebut muncul.
Tapi jika anak mengalami demam saat tumbuh gigi, kemungkinan hal tersebut hanya kebetulan saja atau ada kondisi lain yang menyebabkan anak demam.
Seperti dikutip dari Pediatrics.about.com, Kamis (10/6/2010) selain mengeluarkan air liur, proses tumbuh gigi ini seringkali diikuti dengan gejala lainnya yaitu:
1. Penurunan nafsu makan untuk makanan padat
2. Bayi suka menggigit dan menggosok-gosok gusinya
3. Bayi menjadi lebih rewel
4. Menjadi lebih sering mengisap jempol atau jari
5. Terbangun di malam hari.
Jika gejala-gejala tersebut muncul setiap kali anak akan tumbuh gigi, maka orangtua bisa menyalahkan proses tumbuh gigi anak sebagai penyebabnya.
Tapi jika gejala tersebut timbul dan tidak disertai dengan gigi yang tumbuh, maka ada kemungkinan kondisi lain yang terjadi pada anak seperti infeksi telinga.
Beberapa bayi terkadang merasa tidak nyaman dengan proses tumbuh gigi ini, karena itu orangtua bisa melakukan sesuatu untuk membantu menenangkan anak dan mengurangi rsatidak nyamannya, yaitu:
1. Membiarkan bayi mengunyah sesuatu yang dingin. Salah satu cara yang paling populer untuk mengatasi rasa tidak nyaman di mulut adalah membiarkannya mengunyah hal-hal dingin. Sebuah kain yang dibasahi air dingin bisa mengurangi bengkak di gusi atau memberikan es kecil-kecil yang terbuat dari jus buah.
2. Membantu membuat bayi menjadi tenang dan mengurangi stresnya. Terkadang stres akibat tumbuh gigi bisa lebih buruk dibandingkan akibat sakit fisik. Cobalah untuk menenangkan bayi dengan musik lembut, mengajaknya bicara atau memberinya pijatan lembut.
3. Jika kondisi ini tidak membantu meringankan kondisi bayi, maka tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui ada kondisi lain yang mengikuti atau tidak.
Langganan:
Postingan (Atom)